TaBerita. Tak bisa disangkal lagi bahwa seks
bebas kini sudah menjadi gaya hidup kaum urban di Indonesia. Gaya hidup
yang disinyalir mengadaptasi gaya barat ini nampaknya malah jadi
kebablasan. "Salah satunya bisa terlihat dari data semakin banyaknya
orang yang terjangkit HIV/AIDS di Indonesia, yang disebabkan oleh adanya
hubungan seks yang tidak aman," ungkap dr Boyke Dian Nugraha, saat
acara "Sexual Wellbeing Global Survey" yang diadakan oleh Durex di Plaza
Senayan Arcadia, Jakarta Selatan.
Menurut penelitian yang dilakukan Durex terhadap 29.000 lelaki dan perempuan berusia 18 tahun ke atas dari 36 negara, termasuk Indonesia, menyatakan bahwa sekitar 1.015 orang Indonesia sudah terjangkit penyakit HIV/AIDS.
Sebanyak 80-87 persennya disebabkan oleh seks yang tidak aman, dimana
70 persen dilakukan oleh kaum heteroseksual, dan 10 persennya oleh kaum
homoseksual. Kemudian, 10-20 persen kasus HIV/AIDS disebabkan penggunaan
jarum suntik, dan 5 persen ditularkan oleh ibu hamil kepada janin.
Selain itu, terungkap pula bahwa Indonesia adalah negara dengan
penyebaran HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara.
Selain seks bebas yang tidak aman, diketahui bahwa semakin tingginya persentase peningkatan penyebaran penyakit ini
juga disebabkan oleh kebiasaan bergonta-ganti pasangan. Hasil survei
menyebutkan bahwa dari 100 persen pasangan yang melakukan hubungan seks,
hanya 29 persen saja yang berada dalam status menikah, dan sisanya
bergonta-ganti pasangan.
Fakta yang lebih mencengangkan adalah bahwa sekitar 13 persen lelaki dan
6 persen perempuan di Indonesia tidak setia pada pasangan mereka.
Sayangnya, angka ini ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaya
hidup masyarakat Barat, khususnya Amerika
dan Inggris yang dinilai lebih bebas dalam berhubungan seks. Buktinya,
hanya 10 persen orang Amerika dan 8 persen orang Inggris yang tidak
setia.
"Ternyata masyarakat Barat lebih setia dengan pasangannya, dibanding dengan orang Indonesia, " sesal Boyke.
Tragis memang, jika pada kenyataannya masyarakat Barat ternyata masih
lebih setia dibanding dengan masyarakat Indonesia. Dari survei ini juga
diperoleh data bahwa pria Indonesia bisa berganti pasangan seksual
hingga lima kali, sedangkan perempuan bisa berganti pasangan sampai dua
kali. Hal ini diperparah dengan adanya stigma
di kalangan masyarakat, khususnya di pedesaan, yang mengatakan bahwa
lelaki selingkuh itu dianggap biasa, dan justru dianggap jantan dan
perkasa.
Selain perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia dalam kehidupan sosial,
ternyata peningkatan kesadaran masyarakat Barat tentang pentingnya
kesetiaan sudah mulai meningkat. "Sejak merebaknya isu HIV, orang di
Amerika dan negara lainnya sudah mulai sadar akan bahayanya, sehingga
mereka pun mulai memiliki kesadaran bahwa seks yang paling aman adalah
dengan pasangannya sendiri. Kesetiaan adalah kunci utamanya," tambahnya. [Sumber]






0 komentar:
Posting Komentar